
Setiap kali kita merasa puisi Indonesia bergerak terlalu jauh ke kiri atau ke kanan, kita membaca kembali puisi Sapardi Djoko Damono. Barangkali tidak sekadar membaca kembali, tapi membaca terus-menerus, karena kita tak nyaman terpental-pental oleh dua ekstrem itu. Puisi Sapardi menjadi titik moderat manakala di ujung kiri puisi kita menjadi pucat-pasi, menjadi puisi amanat; dan di ujung kanan, puisi menjadi gelap tak tertembus, menjadi barang untuk dirinya sendiri. Atau, jika kita melihat dari sudut lain: itulah puisi yang menengahi konvensi di satu pihak dan avantgardisme yang keras kepala di pihak lain. Puisi yang merawat ambiguitas sekaligus memperkuat hubungan dengan pembaca dan bahasa. Puisi Sapardi Djoko Damono sesungguhnya adalah puisi yang wajar, namun dalam khazanah perpuisian kita, ia menjadi puisi yang harus.
Tapi mungkin juga puisi Indonesia tidak bergerak ke kiri maupun ke kanan, karena ia adalah sebuah lanskap, yang kita pandang pada momen tertentu. Pada lanskap itu, puisi Sapardi Djoko Damono adalah sebuah obyek di latar tengah, kalau bukan latar tengah itu sendiri, yang mempertautkan latar depan dan latar belakang. Berbatas cakrawala, latar belakang adalah jalinan pelbagai tradisi perpuisian, tradisi-tradisi dari kampung halaman kita sendiri maupun dari benua-benua seberang; barangkali latar belakang itu bernama puisi dunia yang harus kita akhiri dengan menggambarkan ufuk, supaya ia tak terlalu luas dan melelahkan. Supaya latar tengah itu tetap menjadi pusat perhatian kita. Atau, justru latar tengah itulah yang membuat latar belakang berarti; tanpa ia, latar belakang itu tak terbaca, terselimuti gelap masa silam. Sedangkan latar depan adalah aneka puisi hari ini yang sedang mengganggu kita: rantai eksperimentasi yang belum berujung, yang masih menghasilkan bentuk-bentuk yang kabur dan labil.
Puisi Sapardi adalah puisi yang ingin kita cintai dengan sederhana. Ia tidak menuntut: puisi yang dengan sendirinya membuka diri. Berbeda dengan puisi pamflet, misalnya, yang mengorbankan banyak segi dirinya sendiri untuk berbicara lantang; yang bermaksud jadi nubuat, tapi ternyata tidak berhati rendah. Mungkin kita bisa menggemari puisi Sapardi Djoko Damono dengan bersahaja, karena ia genap dalam gramatika dan semantik. Berbeda dengan puisi Chairil Anwar, misalnya, yang telanjur jadi bagian dari ke(tidak)sadaran kolektif kita, namun ternyata, sebagaimana akan kita lihat, mengandung banyak selisih dan derau, apa-apa yang masih mengganggu nalar kebahasaan kita sampai hari ini. (bersambung)