Jumat, 09 April 2010

Titik Tengah (3)


Kata yang hendak mencapai sunyi di satu sisi, dan kata yang berupaya menjadi organisme di lain sisi yang lain—demikianlah wajah ganda puisi Sapardi Djoko Damono yang didapatnya dengan mengendapkan sejarah perpuisian Indonesia. Dengan membaca puisi, kita mencoba menyatukan dua sisi ini—ya, hanya berusaha menyatukan saja sebenarnya. Menyatukan, untuk mendapatkan makna. Tetapi, apakah itu makna? Apa-apa yang sembunyi di dalam wadah puisi? Atau suatu residu setelah kita berhasil menangkap apa sebenarnya yang dikatakan puisi itu? Benarkah kita puas setelah kita tahu bahwa sebuah puisi ternyata berkata tentang sebentang lanskap di rembang petang, sepotong rasa sayang-disayang, atau sesosok aku yang meradang menerjang? Puisi ternyata memberi lebih banyak justru dengan cara mengatakan serba sedikit. Pembacaan adalah sebuah proses yang mustahil, meskipun bukan sia-sia: puisi seakan sebuah permainan tanpa akhir; begitu sampai pada akhir sebuah sajak, kita seakan harus mulai dari awal lagi—kita merasa puas, tapi juga merasa lapar lagi. Sebuah puisi adalah keseluruhan yang dibangun oleh unsur-unsur yang mengambang, bahkan saling berlawananan; dan celah kosong di antara anasir itulah yang menjadi matriks puisi. Seorang penyair tidak bicara melalui prosa agar ia mampu memalsukan dirinya—untuk mewujudkan diri yang lain, untuk mencari apa yang belum kunjung diucapkan bahasa. Tapi ia tak bisa memalsukan dirinya tanpa lebih dahulu memilih siapakah—atau apakah—yang jadi pendahulunya, sadar atau tidak.

Pendahulu terpenting puisi Sapardi Djoko Damono adalah puisi Chairil Anwar. (Sepanjang penulisan ini saya berusaha memusatkan diri, memasukkan diri semata, kepada puisi Sapardi, namun semakin dalam saya merasa masuk, semakin terbuka peluang saya untuk terdorong keluar, ke tradisi persajakan yang melingkupinya.) Akan tetapi, jika si penyair sendiri tidak memilih precursor-nya dengan sadar atau terang-terangan, maka kitalah yang memilihkannya—tentu saja memilihkannya dengan selektif (ya, memang pengarang belum mati, tapi ia telanjur memalsukan dirinya, menyatakan si aku yang menyimpang dari biografinya sendiri dalam puisinya). Ketika saya, pada usia remaja tertegun-tegun membaca sejumlah sajak Sapardi(3) yang baru kemudian saya ketahui terkumpul dalam Duka-Mu Abadi, saya terkejut oleh, misalnya, caranya menyatakan rasa keagamaan secara baru, mungkin saja secara subversif, misalnya saja bahwa duka Tuhan saya, si Engkau, abadi semata—sesuatu yang tak saya dapat melalui bacaan dan pelajaran yang manapun. Namun sebentar kemudian, lebih dari itu, yang lebih mengejutkan lagi adalah ketidakteraturan dalam bentuk yang tertib, kuatrin, yang mampu menajamkan sejumlah frase dan kata. Jauh kemudian hari saya menyadari betapa dekatnya sajak-sajak itu dengan “Derai-derai Cemara” dan “Senja di Pelabuhan Kecil” Chairil Anwar,(4) misalnya. Dalam kasus ini, sebuah sajak meluahkan lebih banyak makna ketika dia dipersandingkan dengan sajak-sajak lain; ia bermakna dengan jalan berbelok dari bahasa, khususnya dari nahu dan semantik. Pembelokan ini semakin lancar setelah ia mengambil pelajaran dari khazanah persajakan yang mendahuluinya.

Avantgardisme Chairil Anwar telah banyak dibicarakan, tetapi saya ingin menggarisbawahi apa yang menghantui puisi kita terus menerus. Itulah tekniknya (mungkin dengan tanda kutip—“teknik”) membangun puisi dari kalimat-kalimat yang tak lengkap, yang mungkin lebih tepat dikatakan sebagai frase-frase yang menggantung. Penyair hendak menjadikan kata sebagai anasir puisi yang terpenting, tetapi kata, betapapun ia telanjur berkait dengan sebelah-menyebelahnya menjadi kata majemuk atau idiom, tak akan bicara jika ia tidak duduk dengan jitu sebagai bagian kalimat; adapun kalimat itu sendiri urung menjadi kalimat sempurna, karena kesempurnaan demikian akan menenggelamkan si kata. Jika kata boleh dibaratkan dengan cat, maka si penyair hendak membuat lukisan, yakni sesuatu yang tersusun secara spasial, sementara sebuah puisi tak bisa tidak harus “menjadi” secara temporal: ia punya awal dan akhir, dan tersusun oleh rangkaian kalimat, yang harus dibaca secara berurutan. Tegangan antara yang spasial dan yang temporal, antara kata dan kalimat, inilah yang digarap dengan baik oleh Chairil Anwar: yakni bahwa sebuah puisi terdiri frase-frase mengambang. Sebuah sajak modern adalah keseluruhan yang dibangun oleh fragmen-fragmen, yang boleh jadi bertentangan satu sama lain; di antara fragmen-fragmen itu terdapat semacam selisih yang menjadi matriks bagi si sajak. Pada titik ini, avantgardisme Chairil Anwar dapat kita nyatakan sebagai upaya untuk melampaui semantik dan tatabahasa. (bersambung)

Catatan Kaki:

3. Sajak “Prolog” Sapardi Djoko Damono (bersama “Monolith” Subagio Sastrowardoyo dan “Senja di Pelabuhan Kecil” Chairil Anwar) saya baca pertama kali di lembar stensilan yang tertempel di majalah dinding SMP saya di Banyuwangi, lebih dari tiga dasawarsa lalu. Lembaran itu diedarkan oleh sebuah panitia lomba pembacaan puisi di Jember.

4. Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang, cetakan kedua puluh satu (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009).