Kita ambil “Senja di Pelabuhan Kecil”, misalnya. Kita tidak lagi mencari isi puisi, karena kita sudah dipuaskan oleh baris pertama, “Ini kali tidak ada yang mencari cinta” (sehingga kita tak akan sampai hati menyimpulkan bahwa puisi itu bercerita tentang si jantan yang patah hati, misalnya). Frase “pada cerita” dari baris kedua di bait pertama, menyela begitu saja urutan gudang, rumah tua, tiang dan temali. Selaan ini hanya pembuka saja, pengantar pada dua gambar berturutan yang tak saling berhubungan, kecuali bahwa keduanya dihubungkan oleh pengulangan bunyi di ujung baris ketiga dan keempat, yakni “berlaut” dan “berpaut”. Atau boleh saja kedua baris ini berhubungan, jika kapal dan perahu ternyata menghembus(kan) diri; dan jika demikian halnya, maka “menghembus” adalah sebentuk pemiuhan fungsi katakerja. Lagipula, bagaimana kita mendudukkan “mempercaya mau berpaut”: bukan hanya bahwa “mempercaya” itu sebuah bentukan yang ganjil, namun juga bahwa “mau berpaut” itu sesungguhnya menuntut obyek sasaran—pada apa, pada siapa. Frase mengambang juga membuat kita bebas mempertautkannya dengan frase sebelum atau sesudahnya; atau, ia lebih berfungsi visual, yakni untuk menggenapkan montase yang kita hadapi. Frase “tidak bergerak” pada baris ketiga bait kedua bisa melekat pada “pangkal akanan” atau “tanah dan air”; sementara itu frase “tiada lagi” pada awal bait ketiga mungkin tidak berhubungan dengan apapun, kecuali mengosongkan apa-apa yang sudah kita tatap pada dua bait sebelumnya. Sekali si aku, yakni dia yang (tak) mencari cinta, muncul, kita tahu semuanya kian kabur saja: kenapa harus ada “pantai keempat” (dan kita tak tahu pantai-pantai yang sebelumnya, atau sesudahnya). Tak berjawab, masih juga kita bersua dengan keganjilan semantik yang lain di penghujung, yaitu bahwa “sedu penghabisan bisa terdekap”—siapa bisa mendekap sedu sedan, ataukah justru dalam jukstaposisi ekstrim kita boleh menanggalkan pengertian?
Dengan contoh di atas saya juga menggarisbawahi bagaimana Chairil Anwar memelihara hubungan antara kalimat-kalimat sumbang—ya, sumbang, jika diukur dengan cara prosa—dengan bentuk persajakan yang tertib, yaitu kuatrin. Seakan-akan bentuk yang sudah mantap dalam sejarah perpuisian dunia itulah—jangan lupa, Chairil juga menggunakan bentuk sonet—fragmen-fragmen kehidupan modern memunculkan dirinya kembali, kali ini secara lebih ajaib. Karena kata-kata memang belum selesai memancarkan keajaibannya, yaitu bahwa arti mereka yang dikandung oleh kamus barulah setahap kemungkinan arti belaka, dan ini hanya dimungkinkan jika si kata duduk dalam frase yang mengambang, bahkan yang seakan mengelak dari frase-frase sebelum dan sesudahnya. Namun sekali lagi, frase-frase ini tak bisa terlalu berlepasan, melainkan harus diikat oleh bentuk persajakan yang teratur, dengan rima yang terjaga. Atau, jika dikatakan dengan cara lain: bentuk-bentuk teratur-konvensional yang dipakai Chairil memang tidak pernah genap, selalu mengandung selisih: memang ada rima, tetapi larik-lariknya seakan mengerut di satu bagian dan merentang di bagian lain. Dan selalu ada derau di sana, yang mengganggu keindahan, ya, paling tidak mengusik tata bunyi dan tata rupa yang dicita-citakan kaum pujangga, keindahan yang mengandung “rasa yang dalam” dan “budi yang tinggi”. Derau itu muncul dalam wujud, misalnya, gabungan kata yang tak wajar, sepotong ide yang muncul tiba-tiba, atau kalimat yang berakhir sebelum waktunya. Kadang-kadang, bila kalimat-kalimat Chairil tampak lebih teratur, dan larik-lariknya terasa lebih genap, misalnya dalam “Derai-Derai Cemara”, maka ternyatalah betapa licin sajak itu mengadopsi, sekaligus menyelewengkan, bentuk persajakan tradisional, yaitu pantun, dan betapa “isi”-nya yang semu-falsafi hanya topeng belaka bagi bentuknya.(5) (bersambung)
Catatan Kaki:
5. Saya pernah mendengar Eddy Soetriyono, seorang pengamat seni rupa, mengatakan, di tengah ceramahnya tentang Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia) di Serambi Salihara, pada 13 Februari 2010, bahwa dalam sajak “Derai-derai Cemara” Chairil Anwar, bait pertamanya adalah sampiran pantun, dan bait kedua dan ketiganya isi pantun. Saya kira saya bersetuju dengannya.