Rabu, 28 April 2010

Titik Tengah (6)


Dengan mengutamakan kuatrin dan sonet Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono sesungguhnya memilih model untuk dirinya sendiri. Penyair hendak mencari aku yang manakah, yang bagaimanakah, yang hendak diucapkan dalam sajak. Jika saya menyatakan di depan bahwa seorang penyair berupaya memalsukan dirinya, maka sebenarnya dia sedang mengelak dari diri biografisnya. Sesungguhnya langkah ini adalah langkah penuh paradoks, karena pada saat yang sama, ia, langsung atau tidak, telanjur mengamalkan teori sosok pribadi dalam sajak, paling kurang ia sudah menegaskan bahwa ada hubungan langsung antara kematangan diri dengan penguasaan bahasa dan bentuk. Jadi bagaimana sesungguhnya bentuk-bentuk yang konvensional itu mampu merenggutkan si aku dari riwayatnya sendiri, memecahkannya setapak demi setapak, dan kemudian menjadikannya aneka pribadi yang lain? Ketika melihat kompleks kekaryaannya sendiri, penyair akan terus bertanya-tanya, benarkah ia sudah menemukan dirinya yang lain, akunya yang lain. Benarkah penyair yang mengharuskan diri menguasai bentuk dan bahasa sebelum menulis, benar-benar menjadi diri yang dewasa—atau jangan-jangan ia hanya kembali kepada permainan, kepada dunia kanak-kanak, supaya bahasa, lembaga yang jauh lebih tua ketimbang lembaga penyair, jadi lebih berkembang melalui berbagai rahasia dalam sajak-sajaknya?

Pelbagai kuatrin dalam Duka-Mu Abadi mungkin sarana kita mendengarkan sunyi, untuk kesekian kali, setelah sunyi yang dibuahkan oleh Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Sekali kita merasa hampir mencapainya, kita bertanya-tanya tidakkah sunyi itu justru mubazir belaka, karena kita benar-benar menikmati rima dan bunyi. Pada saat kita percaya bahwa rima adalah ciri puisi yang berasal dari zaman lampau, paling tidak ketika penyair masih disebut pujangga (sekalipun pujangga baru), maka baris-baris yang membentuk bait tidaklah sepadan panjangnya satu sama lain, bahkan sejumlah baris seperti mengerut tiba-tiba untuk menyiratkan betapa mustahilnya deskripsi, dan betapa prosaisnya kalimat sempurna. Seperti sudah saya katakan, larik-larik Sapardi Djoko Damono terbebas dari derau, namun tak berarti bahwa selisih atau cacat kalimat dihindari, karena inilah cara untuk menahan diri, untuk meredam ekspresi yang berlebihan.

Atau, bolehlah kita mengatakan bahwa ekspresi justru dihindari; sejumlah imaji yang mestinya sudah cukup untuk menyatakan ketenangan dan mungkin kemuraman, bahkan lebih diredam lagi; demikianlah “malam” menjadi “malam pun sesaat terhenti”, bukan untuk menyatakan datangnya terang, namun untuk terangkai dengan “dingin” dan “langit”, yaitu dingin yang terdiam dan langit yang membayang samar. Semuanya teredam, atau hadir belaka untuk permainan bunyi yang diminta bentuk kuatrin. Seperti si aku yang mendengar duka-Mu yang abadi, seperti si Kau yang tak henti berduka, pembaca mungkin “capai menyusun Huruf” sebelum akhirnya tahu bahwa sepi manusia bukan sepi semata tetapi sepi yang jelaga. Puisi yang mestinya ringan belaka menuju kekosongan, karena sedikit warna masih terasa dalam lanskap yang mahakabur itu, harus ditutup oleh jelaga. Inilah nyanyi sunyi kedua, ketiga, atau keseribu, di mana si aku berusaha menghindar dari emosi dan sentimentalisme, tetapi masih juga terseret oleh pretensinya untuk menjadi dewasa. Si aku, tertarik-tarik oleh bentuk kuatrin yang konvensional, dan permainan bunyi setengah-hati, toh mampu juga menemukan ungkapan baru tentang Ia: duka-Nya abadi, dan bisa didengar pula. Buat saya sendiri, baris terakhir sajak “Prologue”,(14) sajak pertama dalam Duka-Mu Abadi, mengingatkan saya pada cara Chairil menutup—atau menyelipi—puisinya dengan semacam pernyataan falsafi atau semu-falsafi (sekalipun apa yang disebut penutup ini pada Chairil seringkali bersifat sangat ekstensif). (bersambung)

Catatan Kaki:

14. Duka-Mu Abadi, cetakan kedua (Jakarta: Pustaka Jaya, 1975).