
Atau si aku bisa juga bernama Qain yang baru saja membunuh saudaranya Abel, yang dalam sisa “dendam pertama kemanusiaan” (pernyataan falsafi juga!) bisa menamai si Kau sebagai Kesunyian.(15) Dalam hal ini, kuatrin adalah cara untuk menahan gambaran dendam dan amarah, supaya cerita lama tentang pembunuhan itu tersendat jalannya, terpotong oleh gambaran alam yang tak lagi indah, yang sebagian masih bernama seperti si Kau. Perhatian kita berpindah-pindah antara gerak cerita dan selaan si aku, namun dalam gerak baris yang mengutamakan rima, pun kesunyian menunggu di ujung sana. Ya, sepi yang pada sajak lain terlihat—atau terdengar—“menghardik berulang kali” ketika si aku adalah suami yang diminta istrinya untuk membunuh si ia “yang merapat ke sisi kita”—ia yang boleh jadi bernama kelam, Saat, atau si Kau.(16) Kita merasa nikmat barangkali karena si aku memanggil—merancukan—dua pribadi di hadapannya sebagai si kau dan si Kau. Tetapi apa yang rancu sebenarnya, jika kita sudah berada dalam keberaksaraan sepenuhnya?
Gambar-gambar mengabur menuju kelam, atau sekurangnya menuju peralihan antara terang dan gelap. Duka-Mu Abadi memberi kita lukisan-lukisan yang hampir saja abstrak, tetapi “untunglah” kata-kata terlanjur punya arti, sehingga tidaklah mungkin si penyair memberi kita lukisan yang abstrak(17) sepenuhnya. Lukisan-lukisan kecil itu dihuni oleh benda-benda generik yang menolak untuk diberi nama jenis. Atau si penyair memang menolak merinci benda-bendanya, supaya lanskapnya selalu menuju kekosongan. Si aku atau si kita bisa saja undur ke latar belakang, atau mencoba melebur dengan benda-benda di sekitarnya, mungkin meniadakan diri, menjadi butir demi butir, menjadi serbuk-serbuk malam yang kemudian tergelincir menyatu; sekiranya si kita adalah sepasang pengantin, maka puncak persetubuhan hanyalah kelopak demi kelopak yang membuka untuk menyempurnakan malam.(18) Penyair menyuling sampai ke batas terjauh, dan kuatrin tampaknya sarana terbaik untuk itu: frase-frase mengambang, yang tampaknya masing-masing susut ke dalam dirinya sendiri, atau yang tampak sesekali lepas keluar namun selalu ditangkap kembali oleh penjara empat seuntai itu. Kalau pun di puncak penyulingan kita mendapatkan tiada, atau saat tiada, maka saat tiada pun tiada. Tetapi apa itu saat tiada? Saat ketika si aku atau si kita lenyap dari pandangan kita pembaca? Barangkali ya. Si penyair harus meniadakan saat tiada itu, untuk memunculkan kembali si kita, namun lagi-lagi ketika muncul pun si kita adalah sepasang Tiada yang tanpa gerak dan serasa isyarat belaka untuk membuka jalan bagi sepi—tak cukup hanya sepi, tapi Sepi (dengan S kapital), Sepi yang meninggi.(19) Bukankah di sini sepi tak lagi terdengar atau terlihat sepi karena dinyatakan dengan verbalisme yang cukup tebal? Atau itukah cara penyair untuk menggiring kita ke dalam keberaksaraan?
Sapardi Djoko Damono bukan tidak tertarik pada puisi bebas, tetapi jelas bukan puisi bebas gaya Chairil Anwar yang amat menekankan tampakan larik-sebaris itu. Ia menggarap juga puisi bebas, yaitu puisi bebas yang hanya terdiri dari satu bait, seakan-akan itu adalah perpindahannya menuju ke bentuk yang jauh lebih bebas. Puisi bebas Sapardi adalah caranya mendedahkan si aku atau si kita tanpa ketegangan; kalimat-kalimat yang tak terpiuh, justru seperti hendak mengurai, seperti hendak mengatakan bahwa si aku bersiap-siap undur ke sebalik panggung, sekurang-kurangnya bahwa si aku bukan lagi bagian dari pusat dari puisi lirik.
Catatan Kaki:
15. “Dua Sajak di Bawah Satu Nama”, khususnya bagian kedua, Duka-Mu Abadi.
16. “Kupandang Kelam yang Merapat ke Sisi Kita”, Duka-Mu Abadi.
17. Dalam khazanah seni rupa Amerika Utara, kata “abstrak” digunakan secara positif baik oleh publik maupun akademisi untuk mencandra lukisan-lukisan, misalnya, Jackson Pollock, Willem de Kooning, Robert Motherwell, Barnett Newman, Mark Rothko, Adolph Gottlieb.
18. “Sajak Perkawinan”, Duka-Mu Abadi.
19. “Dalam Doa: II”, Duka-Mu Abadi.