
Seni rupa bukan hanya seni yang berindah-indah dengan rupa, namun juga seni yang bersoal jawab dengan rupa. Dalam 15-an tahun terakhir ini kata “senirupawan” seakan menghilang dari bahasa kita, dan sebagai gantinya kita mendapatkan “perupa”—yakni pembuat rupa. Demikianlah, kekhususan dan ketinggian seni rupa tak ditekankan lagi; sebaliknya, seni rupa bersilangan, menyetarakan diri, dengan desain, kriya, dan budaya massa.
Tentu saja, persilangan demikian adalah buah penilaian terhadap sejarah seni rupa sendiri. Amalan seni rupa berkembang melalui gegaris yang bercecabang, melengkung, mengulir. Setiap percabangan itu melibatkan usaha para seniman, kurator, pengamat, khalayak, media massa dan lembaga seni. Namun setiap saat pula, tahap-tahap perkembangan itu mesti diuji. Gelanggang seni rupa adalah tempat persaingan dan permainan antara berbagai gagasan. Cara kita memandang akan menentukan apa itu kenyataan seni rupa.
Pameran-pameran di Galeri Salihara pada tahun ini akan bertitik berat pada persilangan antar-bidang seni rupa; pada kemampuan seni rupa untuk memperluas dirinya; pada penonjolan akan seni rupa “yang lain”; pada kolaborasi antar-perupa dari berbagai disiplin dan latar belakang. Nalar pameran demikian kami tawarkan ke sejumlah kurator dari luar yang, dalam pandangan kami, sudah lama berkecimpung dalam bidang-bidang bersangkutan, atau yang menaruh minat pada lelaku transdisipliner.
Para kurator itu, kemudian, akan menerjemahkan nalar pameran sesuai dengan bidang kajian dan lingkup jejaring masing-masing. Sementara itu, mereka juga akan menajamkan pameran dengan tema-tema tertentu, yang boleh jadi kait-mengait dengan situasi tertentu, atau dengan paket program Komunitas Salihara. Pada dasarnya mereka, melalui diskusi dengan kami, leluasa memilih perupa, merangsang penciptaan dan kerjasama antar-perupa, merencanakan tampilan—singkatnya, mewujud-jelaskan garis kuratorial mereka sendiri.
Pameran komik bertajuk Bara Betina ini adalah pameran kami yang pertama pada tahun ini. Yang kami maksud komik sudah tentu adalah komik itu sendiri—yakni komik kita dalam perkembangannya yang mutakhir, tepatnya dalam sebagian atau beberapa fasetnya—tak lebih dan tak kurang. Komik demikian adalah cerita bergambar, cergam. Kami percaya bahwa dengan gelaran semacam ini, kita bisa menilai kembali pasang-surut khazanah komik kita, mendudukkannya dalam “globalisme” komik sekaligus masa lalu nasionalnya, mendukung kebangkitannya, serta mengancang perkembangannya.
Menggarisbawahi komik sebagai komik adalah juga menatap kekuatannya sebagai seni gambar sekaligus seni cerita, hasil kepiawaian teknis dan wawasan yang dibawakan para pembuatnya. Watak asli komik ini perlu kami garisbawahi sebagai kontras terhadap “seni rupa komik” atau “komik seni rupa” yang lebih merupakan eksperimen kalangan seni rupa atas (seringkali seni lukis) ketimbang usaha para perupa-komik sendiri. Jika “komik seni rupa” menekankan klaim keseniannya, komik-cergam tampak tidak berpretensi apapun kecuali bercerita dalam berbagai cara dengan gambar-gambar yang hidup.
Salah satu aspek penting komik-cergam adalah penggarapan karakter, sesuatu yang tak muncul dalam “komik seni rupa”. Pameran Bara Betina dengan dengan kurator Gupta Mahendra ini menebalkan karakter-karakter perempuan: berbagai karakter yang membumi maupun yang fantastis, yang menyejarah maupun yang menjangkau ke depan. Semua itu sudah tentu bagian dari refleksi tentang perempuan dan keperempuanan. Bukan kebetulan bahwa Maret-April 2011 ini kami ancangkan sebagai Dwibulan Perempuan—untuk mengingat Hari Perempuan Internasional dan Hari Kartini—yang menonjolkan para seniman dan pemikir perempuan, juga tema-tema keperempuanan, dalam aneka acara kami.
Kami berharap bahwa gelaran tujuh pekomik dan satu kelompok-pekomik dalam Bara Betina akan membawa kita memandang seni rupa dari arah yang lain. Pameran ini adalah satu di antara sekian banyak langkah untuk mengindahkan komik: bukan memperindah-indahkan komik, tapi menganggapnya dengan wajar sebagai amalan seni rupa, yakni seni yang membuat kita melek-rupa.
(Tulisan di atas adalah pengantar untuk pameran komik bertajuk Bara Betina di Galeri Salihara, yang akan dibuka pada 9 April, dan akan berlangsung sampai dengan 30 April 2011. Gambar di atas adalah karya Ario Anindito, salah seorang pekomik peserta pameran.)