Minggu, 01 Mei 2011

Situasi Chairil Anwar (5)

Malah tak jarang cukuplah kita puas (dan sekaligus terkejut selalu) dengan sebuah bagian atau sebuah frase saja dari Chairil Anwar, sementara bentuk sajak dalam keseluruhannya hanyalah wadah untuk menonjolkan evokasi yang sedikit itu. Pada sajak “Di Mesjid”, Tuhan bukanlah Dia yang didatangi, tetapi yang dipaksa datang dengan seruan, dan ruang ibadah menjadi ruang di mana si aku dan Tuhan “binasa-membinasa”, berperang. Antitesis-nya barangkali adalah puisi “Doa”, di mana si aku di depan Tuhannya menjadi “hilang bentuk” dan “remuk”. Dalam sajak “Hampa”, sepi bukan lagi hanya situasi, tetapi menjadi organisme, yang melalui pengulangan bertingkat menjadi kian besar, membuat pohonan lurus-kaku dan setan bertempik. (Bagi saya, “Hampa”, lagi-lagi, melanjut-tumbuhkan sajak “Sunyi Itu Duka” Amir Hamzah.) Namun dalam mencipta gambaran yang baru, visi yang mengatasi nalar umum itu, si penyair menanggung risiko kegagalan—atau temuannya aus oleh waktu. Frase “aku ini binatang jalang” dari sajak “Aku” (atau “Semangat”) memang baris yang mudah diingat, tetapi jadi “lucu” dan remaja jika dibaca pada hari ini. Sementara itu, frase “hidup hanya menunda kekalahan” (dari sajak “Derai-derai Cemara”) hanyalah pernyataan semu-filsafat. Tentu saja, cacat demikian kita rasakan hanya jika kita memisahkan frase-frase bersangkutan dari bangunan sajak keseluruhan.

Sambil menyelami Chairil Anwar, kita juga mencurigainya. Segenap cacat yang barusan saya bicarakan, terkadang memang diperlukan untuk terciptanya sebuah lukisan, yakni lukisan suasana. Puisi modern bukan hanya memerlukan frase-frase mengambang dan celah bisu di antaranya, tapi juga derau, gangguan, di dalam frase itu sendiri. Ada sejumlah sajak Chairil yang tetap susah terpahamkan hingga hari ini tapi kita baca terus-menerus: karena di sanalah kita melihat lukisan. Jika narasi tersusun secara temporal—yakni kita baca berurutan dari awal hingga akhir—maka lukisan terbuat secara spasial—yakni kita tangkap sekaligus dalam keutuhannya. Sajak sebagai lukisan ternikmati karena ia mengandung tegangan antara yang spasial dan yang temporal. Sajak-sajak seperti “Catetan Th. 1946” dan “Kabar dari Laut,” misalnya, seperti mengandung larik-larik yang hendak berlari sendiri-sendiri, atau terasa canggung rancangannya. Namun derau dan “inkoherensi” semacam inilah yang menjadikan sajak-sajak itu lukisan modern, di mana kita beroleh pengalaman inderawi sambil terlucut dari arti. Sajak-sajak itu menjadi lukisan karena fragmen-fragmennya disatukan oleh matriks yang terbentuk oleh sunyi dan rima. Tidak jarang pula Chairil mengorbankan nahu dan morfologi demi mencapai kepadatan; lihat, misalnya, frase-frase seperti “kita jalan sama” (sajak “Kawanku dan Aku”) atau “hujan menebal jendela” (sajak “Dalam Kereta”).* Suatu upaya untuk mengambil kelisanan ke dalam puisi? Barangkali saja. Atau kegagapan Chairil menggumuli tulisan? Namun jelaslah semua cacat yang ditimbulkannya menjadi derau yang menyedapkan, yang menimbulkan rasa curiga yang mengikat kita dalam keseluruhan kerangka bentuk sajaknya. (bersambung)

* (Saya kutip sebuah catatan kaki saja, untuk mengurai frase ber-*): Zen Hae menulis, dalam esainya “Chairil dan Sebuah Lompatan” yang dibawakannya di Freedom Institute, Jakarta, 29 April 2010, bahwa kita bisa merekonstruksi frase “kita jalan sama” menjadi, misalnya, “kita di jalan yang sama,” “kita ke jalan yang sama,” “kita berjalan bersama,” “kita jalani bersama”. Kemudian, saya harap, kita bisa pula “memperbaiki” frase “hujan menebal jendela” menjadi, misalnya, “hujan menebal di jendela” atau “hujan menebalkan jendela”.