
Ledakan penggunaaan komputer dan internet telah membuat setiap orang mampu menjadi pengabar, pelaku, pelopor dan pencipta untuk berbagai bidang. Untuk sementara ini kita percaya bahwa hirarki di antara kaum spesialis dan orang awam telah runtuh. Ketika bangun pagi, kita lebih dulu bertanya kepada media sosial ketimbang kepada suratkabar. Konon dunia maya bukan lagi perpanjangan dunia nyata, namun sebaliknya. Dan piranti lunak memperluas kemampuan panca-indera. Revolusi tak lagi memerlukan nabi revolusi. Di zaman digital, jenius tak diperlukan lagi.
Dalam demokratisasi yang demikian, setiap orang mampu menjadi seniman. Kita dapat menjadi penulis tanpa tergantung kepada kuasa sang redaktur: aneka blog bertumbuhan lebih pesat dari jejamur di musim hujan; Facebook adalah tempat penerbitan terpanas, di mana polemik dan caci-maki begitu sulit dibedakan; dan di Twitter kata-kata mutiara menderai sampai jauh. Dan dengan piranti lunak yang diperbarui setiap saat, kita juga boleh menjadi senirupawan digital. Tersedia aneka ruang pamer di dunia maya; salah satunya (seperti disebut dalam pengantar kuratorial pameran ini) adalah deviantArt, situs dengan jumlah anggota lebih dari 14 juta.
Selaku seni dua-matra, seni vektor menghilangkan—atau kehilangan—semua ciri lukisan. Kontur yang tebal-tegas, warna-warna tanpa tekstur dan tanpa jejak sapuan, bentuk-bentuk yang kekartun-kartunan—semua ini mudah kita kenali pada seni vektor. Tetapi, saya kira, akan lebih baik kiranya kalau seni vektor kita anggap bukan jenis, melainkan cara. Sebab, semua ciri seni vektor sudah kita lihat hampir seabad ini pada aneka film kartun. Kita dapat merumuskan seni vektor sebagai seni menggambar-melukis dengan piranti lunak. Mungkin suatu hari nanti, dengan makin berkembang dan “manusiawi”-nya piranti lunak dan keras, seni vektor akan semakin mirip dengan—atau bahkan lebih dari—lukisan. Atau lebih baikkah kita berpendapat bahwa seni vektor memang bukan seni lukis?
Salah satu berkah zaman digital adalah bahwa kita bisa bergerak di wilayah abu-abu. Definisi tentang sesuatu, termasuk seni, bisa kita taruh di antara tanda kutip atau di bawah coretan. Jika semua orang boleh menjadi seniman, maka menciptakan adalah merayakan. Jika lukisan menyarikan kenyataan, maka seni vektor melebih-lebihkan kenyataan; jika lukisan mencari kedalaman, seni vektor menggarap yang serba-permukaan. Tapi bukankah sudah lama kita terbiasa dengan yang serba-permukaan dalam seni—sejak Pop Art di tahun 1960-an? Maka bolehlah kita pandang seni vektor sebagai risiko lanjut dari Pop Art.
Artinya, kita tak lagi bisa terkejut dengan kebaruan dan pembaruan dalam kesenian. Seni vektor dapat kita anggap interupsi singkat terhadap kontinum sejarah seni rupa, tapi juga bagian daripadanya. Ia bisa dianggap main-main yang serius, bisa juga anarki yang serba-manis. Dan jika para senimannya menolak untuk menggunakan nama sendiri (seperti yang terjadi dalam pameran ini), seni vektor barangkali juga dapat dianggap sebagai seni oleh mereka yang tidak ingin meninggalkan jejak pribadi dalam sejarah seni atau sejarah apa saja. Seni vektor adalah untuk kegirangan hidup: makin banyak yang mengerjakannya, maka makin banyaklah kegirangan kita.
Namun ada saatnya kita memikirkan kegirangan hidup itu sendiri. Pada akhirnya seni vektor adalah sesuatu, yang menuntut evaluasi yang sungguh-sungguh—entah demi kepentingannya sendiri di masa depan, entah demi tanggapan khalayak di masa kini. Pameran ini berangkat dari satu anggapan bahwa seni vektor bisa berurat-akar dengan konteks khusus, katakanlah konteks Indonesia. Para seniman itu, sebagaimana dikatakan oleh judul pameran, bukan hanya mengolah madu dan racun dalam kejadian membangsa kita, namun juga membuat karya-karya mereka jadi madu bagi yang percaya kepada perubahan dan racun bagi yang berpihak pada kemapanan.
Pameran ini adalah bagian dari rangkaian pameran kami di tahun ini yang hendak menggaris-bawahi “kesenian yang lain”. Kami percaya bahwa seni rupa senantiasa memperluas rumusan dan amalannya, bahwa “yang lain” itu ada dalam diri kita juga. Para kurator-tamu selalu membantu kami dalam menemukan aneka wilayah tak terduga; kali ini kurator Godot Guntoro mengusung madu dan racun seni vektor untuk kita semua. Bermanis-manis dengan rupa dan berpahit-pahit dengan apa yang melandasi rupa—itulah tampaknya agenda seni yang pantas untuk zaman digital ini.
(Tulisan di atas adalah pengantar untuk pameran seni vektor bertajuk Madu, Racun dan Negeriku di Galeri Salihara, yang akan dibuka pada Sabtu, 28 Mei ini. Ilustrasi adalah karya Theyhatemydesign (THMD) berjudul In Hate We Trust, salah satu karya dalam pameran bersangkutan.)