Membaca puisi Goenawan Mohamad adalah berperkara dengan pembacaan. Itulah puisi yang pada pembacaan pertama dan kedua terlihat mustahil: ketika ia menuju bentuknya yang terbaik, ada yang tetap tak terucapkan olehnya, ada yang dihindarkannya dari kesempurnaan. Mencerap puisi demikian adalah menghadapi “separuh ilusi”: setiap kali saya berharap bahwa puisi yang cemerlang adalah yang merasuk ke dalam diri saya dalam segenap keutuhannya, keseluruhannya, maka justru hal ini tidak terjadi—atau tidak segera terjadi jika saja saya masih memberikan diri kepadanya. Puisi adalah lukisan, tetapi lukisan yang urung: jika lukisan rupa sejati membentangkan diri sekaligus, tanpa awal dan akhir, maka puisi memberikan dirinya kepada kita tahap demi tahap, frase demi frase, kalimat demi kalimat, bait demi bait. Namun begitu saya selesai membacanya, saya pun segera sadar bahwa ia pun urung juga menjadikan dirinya sebagai urutan frase, kalimat atau bait: ia adalah kejadian yang tampil dalam keserentakannya. Sia-sia belaka usaha saya untuk membacanya sebagai malihan cerita atau tamsil.
Atau, setiap kali kita mengira bahwa puisi yang baik adalah yang unsur-unsurnya kait-mengait, saling memperkuat, untuk membentuk semacam tata yang membuatnya kokoh, kita mendapatkan yang sebaliknya. Bagi pemburu pesan, puisi akan jadi fluida yang selalu luput dari genggaman. Demikianlah pokok kita dengan puisi Goenawan Mohamad. Jika sebuah prosa mengantarkan kita sampai ke tujuan sesuai janjinya, sekalipun jalan-jalan yang harus kita lalui tidak lurus lempang, maka sebuah sajak tak pernah melunasi janjinya, atau ia seakan menyeret kita ke dalam labirin tanpa memberikan peta apa pun. Ia tidak membiarkan kita menjejak, namun membuat kita mengambang; di akhir puisi, kita tak mencapai apa pun, dan kita membacanya lagi dari awal, dan begitulah seterusnya. Dengan semacam rasa teracuni atau terbius, kita mengais ke balik unsur-unsurnya, mencoba mendapatkan intinya. Mengais terus-menerus, tampaknya kita tak akan menemukan inti apa pun. Di titik ini barangkali saya mengharapkan pembaca berpengalaman, yakni pembaca yang merasa menguasai—atau dikuasai—tradisi perpuisian tertentu, katakanlah puisi modern Indonesia. Semestinya pengalaman ini memudahkannya dalam mencerap; namun ternyata sejumlah puisi, saya kira termasuk puisi Goenawan Mohamad, malah memperdayakannya dengan tradisi yang ditanggungnya itu. Pengetahuan tentang khazanah termaksud, tapi yang hanya bekerja dari luar, tidak berdaya menembus dalaman puisi yang justru mencerminkan khazanah tersebut. (bersambung)