Minggu, 2009 Juli 12

Kitab dan Senjata (IX)


(5)

NAMAKU Senapati. Percayalah, namaku tak sembada lagi: kini aku mulai jemu akan medan perang; dengan diam-diam kuhalangi para panglima dan serdadu untuk saling membunuh setelah pembantaian besar di Kuruksetra. Kuyakinkan diriku bahwa aku tak ikut membantai di padang tarung mahaluas itu, aku hanya mengipasi, hanya memanasi-manasi belaka; lihatlah, tubuhku tak berwarna merah-darah, namun bening-hening di siang hari dan gelap-pekat di malamhari. Aku angin yang berhembus di atas api yang hendak berkobar sendiri. Malam itu kuikuti tiga ksatria berkuda biru masuk ke dalam hutan menyembunyikan diri dari kejaran kaum Pandawa dan Pancala. Salah seorang mengenakan sebutir intan cemerlang di dahinya sejak lahir. Ia bernama Aswatama. Duryodhana, sang raja yang sekarat di tepi Telaga Dwaipayana itu, baru saja melantiknya menjadi senapati, panglima perang kaum Kaurawa. Tapi ia tak punya pasukan. Hanya dua orang yang mengiringinya. Kripa dan Kartawarma.

Dari matanya yang tak kunjung mengantuk itu, aku tahu ia ingin membunuh. Amat kusayangkan dendam kesumatnya, sebab sesungguhnya ia pembaca kitab yang cemerlang; seringkali aku merasa hanya dialah yang layak menjadi pesaing sejati Ganapati. Aku percaya bahwa ia, seperti bapanya sendiri, membawa kitab-kitab ke medan perang, untuk membuktikan apa yang keliru dari kitab-kitab itu. Di bawah pohon wringin purba, ketika dua sahabat-pengiringnya tertidur, aku ingin menghiburnya. Atau membujuknya. Bila ia bisa tidur nyenyak malam itu, aku percaya esok paginya ia akan melupakan senjata-senjatanya. Sesungguhnya ia seorang cendekia; bila ia berhenti membunuh, aku akan menguburkan semua senjataku; lalu aku akan berguru kepadanya bagaimana menafsir kitab sebaik-baiknya.

Maka aku berbisik kepadanya, “Seekor burung hantu mengembangkan sayapnya di atas kepalamu, wahai prajurit. Sungguh ia iri pada gagak-gagak yang tidur lelap di sekitarnya. Tapi si burung hantu telah kehilangan jalan, wahai pembaca kitab. Di bawah bulan, gagak-gagak yang tidur itu tampak seperti gelombang yang bangkit menerkam ke arahnya. Begitulah makhluk yang setengah-bermimpi, wahai putra Drona. Ia tak bisa tidur karena terbakar oleh dendam kesumatnya sendiri. Ia pun membuka cakar dan paruhnya dan membantai para tertidur yang damai itu. Esok harinya, ia tak bisa tidur lagi, sebab hari berwarna hitam-legam seperti malam yang abadi. Seluruh hutan dan padang tertutupi oleh bulu dan bangkai hitam-legam kaum gagak. Maka tidurlah, wahai pengaji kitab, tidurlah lelap, lalu bangkitlah dengan sukacita. Hiduplah untuk dirimu sendiri. Untuk kitab-kitabmu, yang akan kaubaca dalam terang. Terlalu rendah jika kau menjadi pembawa dendam kaum Kaurawa, wahai Aswatama.”

(bersambung)

Minggu, 2009 Juli 05

Kitab dan Senjata (VIII)



Ibuku berkata bahwa bapaku mengembara supaya aku menguasai Kitab Bantal Merah yang membentangkan riwayat Senapati dan aku. Itulah kitab paling manis, demikianlah bunda senantiasa membujukku. Kitab yang mendudukkan aku di antara para dewa. Tapi perlahan aku belajar bahwa ia kitab paling getir, seperti ditulis dengan getah buah maja, bahkan dengan darah. Lidah api seakan selalu mengintip di setiap kalimatnya. Bila aku membacanya, aku merasa bapaku ada di sekitar kami. Bila aku mengajinya, bapaku terus menyumbangkan senjata untuk Senapati dan membiakkan kalimat rahasia untuk aku. Ia menari di antara dua seteru untuk memanas-manasi Senapati dan ia melepaskan darah dan getah mani ke sungai-sungai untuk mencerdaskan aku. Maka kubakar setanggi untuk mengusir bau tubuh ayahku dan kukilapkan gadingku agar bayang-bayang bapaku sirna. Kutulis catatan kaki pada setiap halaman Kitab Bantal Merah supaya riwayat hidupku berbelok arah. Kerap aku sadar bahwa aku bukan hanya mesti membaca kitab: aku harus juga menggunakannya. Menungganginya.

Misalnya saja, ketika api sungguh-sungguh berkobar di antara kalimat-kalimat Kitab Bantal Merah, kukatakan saja bahwa kaum Pandawa mengalahkan Kaurawa dengan berbuat curang; begitu api itu padam oleh hujan susu, aku merasa membangkitkan Aswatama dari puing-puing, abu dan arang untuk menghabisi lawan-lawannya, sisa bala Pandawa, yang terlelap tidur. Sejenak kututup kitabku agar Senapati bebas menguntit ke mana Aswatama pergi. Lalu aku tidur dan bermimpi bahwa Senapati hendak kembali ke Kailasa. Bila Senapati hendak membuang topeng-topengnya lantaran bosan dengan perannya membuntuti para panglima, aku pun terbangun dan berseru, “Jangan! Topeng-topengmu akan menyelamatkanmu.” Kemudian, sambil mengunyah madu dari kembang-kembang yang tumbuh di kakiku, kutambahkan sendiri pada bagian tengah kitab itu, misalnya, “Senapati, tanpa sadar, menguntit ayahnya ke Selatan. Tetapi ayahnya kini menyamarkan diri—mungkin di balik sosok Aswatama, atau di balik sosok Kala.”

Jalanku adalah jalan kitab dan jalan Senapati jalan senjata, begitulah para pengagum itu berkata. Dua jalan yang berbeda. Tidak, kataku. Sejak dulu kami sering bertukar jalan. Ayahku meninggalkan Kailasa agar Senapati membaca segenap kitabnya, dan ibuku mengejar bapaku agar aku pandai memainkan segala senjata ayahku. Pada masa remaja kami suka berkejaran dari gunung ke gunung: ah, sekadar bersandiwara bahwa kami bisa juga bertarung sebagaimana Sugriwa dan Subali, Rama dan Parasurama, barong dan rangda, kinari dan kinara. Malamhari kami berteka-teki; misalnya, bila dia menguarkan sampiran, “Kemumu di dalam semak, jatuh melayang selaranya,” aku segera menjawab, “Meski kitabmu setinggi tegak, tidak berperang apa gunanya.” Ayah dan ibu kami mengembara supaya aku mengira bahwa menara gadingku adalah pusat dunia dan Senapati menyaksikan para kembaran memperebutkan kerajaan dunia. Tapi kami bergantian belaka, tidak berebut siapa yang harus lebih mumpuni dan lebih dahulu. Bila dia membaca kitab, aku menggali kuburan senjata ayah; bila aku menulis, dia rajin berlatih senjata; bila dia membuka peta-peta ibuku, aku memperbaharui jurus-jurus tari warisan ayahku; bila aku memandang ke seluruh buana, dia menatap ke dalam jantungnya sendiri.

(bersambung)

Senin, 2009 Juni 29

Intermezzo: Catatan Tigor Ioannes Hutahaean (1)


Pulang dari forum baca-puisi—atau pertemuan penyair—di Guadalajara dan Belo Horizonte, penyair Tigor Ioannes Hutahean menulis di catatan hariannya. (Seperti biasa, setelah penerbangan panjang, asam lambungnya naik, mengganggu pankreasnya dan membuat migrennya kambuh berat, dan ia sudah tiga hari ini banyak berbaring di tempat tidur sambil melengketkan diri pada saluran Animal Planet di televisi. Makanan utamanya adalah pangsit kuah dan tahu baso yang dipesannya dari Bakmi Gajah Mada; ini sudah tentu makanan yang keliru bagi penderita tukak lambung kronis.) Ia tidak ingat tanggal dengan baik, ia hanya merasa hari itu hari Sabtu. (Adapun kita juga tidak tahu sudah berapa lama ia tiba kembali di tanah air; tapi kita tahu penanggalan—18 Agustus sebuah tahun kabisat—ketika ia menulis catatan di bawah ini):

Manuel Lazaro Blanco, teman yang paling menjengkelkan. Ia pantas dipanggil musuh. Atau iblis. Bahkan anjing. Aku hampir meninju mukanya ketika ia berkata bahwa Ubud termasuk desa paling membosankan di dunia. Ia nyaris meludahiku ketika kubilang Cuba Libre bagiku terasa seperti kencing kuda. Sayang ia penyair yang cemerlang. Dan ia tampan pula: dari samping ia tampak seperti Kristus (bukan Lazarus!); dari depan, ia mirip Gael Garcia Bernal, tapi dengan rambut kriwil menjuntai ke bahu. Seusai membaca puisi di panggung, cewek-cewek selalu menguntitnya (meski suaranya terlalu ringan, nyaris tak bisa menggemakan puisinya). Pernah aku mengira bahwa para pengagum itu hanya ingin menghisap ototnya, tapi, ternyata beberapa sungguh-sungguh mampu menceritakan kembali sajak-sajaknya (bukan kebetulan, sebuah sajaknya pernah dipakai sebagai pembuka film Anjing Oaxaca garapan Estanislao Schramm, yang melambung tinggi di antara kaum indie). Sayang ia, sekali lagi, penyair cemerlang. Maaf, aku sedikit keliru. Puisinya cemerlang, sedangkan penyairnya sendiri, orangnya maksudku, layak dilupakan. Bagiku, puisinya seperti menggabungkan pengaruh Günter Eich, Amir Hamzah, dan Nicanor Parra. Bagaimana mungkin? Tapi begitulah yang kuresapkan sendiri, paling tidak dalam terjemahan Inggrisnya. (Terima kasih kepada Charles Damien Hass, yang sangat berhasil menerjemahkan Amir Hamzah ke Inggris, terjemahan yang kiranya mencapai para tukang syair seperti Manuel Lazaro Blanco.) Ia, yang lahir dan bermasa kanak di Uruguay dan kini tinggal di wilayah Costa Brava, Spanyol, bagiku tergolong penyair pelanduk. Aku benci sekali bahwa tahun depan kami akan bertemu lagi di Cape Town atau Macau.

Ya, penyair pelanduk. Aku bertanya-tanya siapa penyair pelanduk di negeriku? Aku tiba-tiba tersadar bahwa kaum penyair di negeriku, sebagian besar mereka, dapat digolongkan sebagai burung merak dan bengkarung. Aku harap diriku tidak termasuk ke dalam golongan manapun, sebab aku layak dilupakan. Karyaku pantas dilupakan. Yang aneh, para penyair yang merasa karyanya akan kekal-abadi itu selalu saja cemburu padaku. Setahun ini dua-tiga kubu pengulas bertengkar seru tentang buku puisiku yang terakhir. Percayalah, pujian hanya membuatku mual, dan kecaman hanya membuatku tertawa ngakak seperti iblis terakhir.

(bersambung)

Minggu, 2009 Juni 21

Kitab dan Senjata (VII)


(4)

LIHATLAH, mulai was-was aku dengan namaku sendiri, sebab jangan-jangan aku sudah mengambil sebagian peran Senapati. Tolong katakan padaku, perannya yang mana saja—peran kecil atau peran besar? Untuk keraguan inilah aku bisa mengenal bahwa sesiapa yang hendak diberkatinya menjadi serupa dengan aku. Aswatama, misalnya. Bukankah dia yang telanjur digariskan menghabisi Drishtadyumna, Sikhandi, dan lima putra Drupadi pada tengah malam itu kini telah menjadi penari dan pembaca kitab? Bila dia tak juga berhenti menari di bawah badai hujan dan halilintar, aku percaya ada begitu banyak yang belum termaktub dalam kitab-kitabku. Bahkan kucurigai dia membaca dekat-dekat Kitab Bantal Merah untuk mencampuri, mungkin mengacau, kisah Senapati dan aku. Lihatlah, bahkan kini aku, Senapati, dan Aswatama saling berkejaran ke Selatan, barangkali berlomba siapa yang lebih cemerlang di antara kami. Siapa yang akan tiba di Langka lebih dahulu?

Ibuku pernah berkata bahwa kitab-kitabku ditulis dengan susu paling gemilang: susu mahabetina, susu matahari, susu langit, susu angin, susu bumi. Bila aku membaca kitab, itu berarti dunia sedang menyusui aku. Aksara, kata, kalimat—semua itu kukenal sebagai sekadar bagian dari tubuh semesta yang tak henti menggoda aku; dan aku bertarung dengan tulisan untuk mengkhianati mahabunda mahakekasih yang tak kenal malu itu. Di menara gading aku tinggal sampai akhirnya tahu bahwa kitab-kitab mengandung juga benih api. Ya, itulah api yang tidur lelap di balik endapan susu, seperti Agni yang selalu sembunyi di balik lelangkah Wisnu. Bila api itu benar-benar bangkit, ia akan menyerakkan tata yang sudah kupercayai. Dengan kobaran itulah aku, konon, merobohkan menara gadingku dan mencari Senapati yang dengan berani meninggalkan aku. Senapati seperti membawa semua dewa ke medan perang, kecuali satu, yang ditinggalkannya untuk menjadi akarku—Agni. Bayangan Senapati yang melekat dalam kitab-kitabku bukan gelap-gulita, tapi terang-benderang seperti wajah Agni.

Sesungguhnya tak suka aku mengayunkan senjata, tapi kuhabisi siapapun yang menghalangiku membaca kitab, ya, siapapun yang mengubah susu dunia menjadi racun Swargaloka. Kitab-kitabku bergetaran setiap kali ada yang naik ke mari, ke Kailasa, mungkin hendak membujuk aku mengembara seperti Senapati. Dengarlah, wahai kaum pemujaku, semua kitabku pastilah terasa manis. Janganlah naik kemari untuk menguncang-guncang Kailasa, menara gadingku, sebab akan kutebarkan rasa manis ini agar kalian tak lagi saling bertikai memperebutkan khazanahku. Percayalah, Senapati berada di tengah medan laga tepat ketika aku bersitegang dengan ajaran sebuah kitab; dan jika aku baru saja menutup sebuah kitab, selalu ada saja yang gugur di hadapan Senapati. Tentu saja, kitab yang kubaca akan terasa begitu pahit manakala Senapati tertegun-tegun di tengah perang saudara (misalnya yang berlangsung di Kuruksetra itu) dan terdengar bertanya padaku, “Siapa lagi yang harus kugugurkan, Ganapati?”

(bersambung)

Kamis, 2009 Juni 11

Kitab dan Senjata (VI)


“Kenapa kita mesti menirukan laga antara dua seteru yang mirip satu sama lain—Karna dan Arjuna, Subali dan Sugriwa, Rama dan Parasurama, Bhimasena dan Nawaruci, atau Ismaya dan Antaga? Kenapa mereka mesti jadi kembaran sebelum kita? Ah, semua itu hanya kelahi yang sungguh menjemukan,” ia berkata sambil berkalang tanah. Dan aku berhujah, “Marilah. Lekaslah. Akan kuubah dirimu sehingga kita bisa merindu-dendam dengan sempurna.” (Ya, sebentar lagi ibu-bapa kami akan pangling pada dua anaknya.) Ia berkata lagi, “Benar. Akan kurias kau seperti supaya dunia ini tak mencibir pada perang-perangan kita, Senapati. Supaya Parasurama tak lagi membayang-bayangi kita.” Sambil membidikkan halilintar ke arah jantungnya aku berkata, “Kini terang kencana berbenih dalam dirimu. Berikan sebagian hitam legam mautmu padaku, Ganapati.”

Sejak itu kami belajar menjadi pembuat topeng dan perias yang cergas. Mencoret-coret Kitab Bantal Merah dan mengungkai-balik dan menyadur kalimat-kalimatnya, kami coba menemukan jalan-jalan tersembunyi, yang terlarang bagi sesiapa. Aku pecinta terang, maka kuwarnai tubuh Ganapati dengan kuning berkilau-kilau agar dia cemerlang seperti matahari, kuil kencana, atau bungasurya. Ia berkata, “Tapi kini aku lebih mirip denganmu, saudaraku. Buat aku gaib seperti bulan dan garib seperti tempayan.” Lalu kubuatkan dia jubah mahabesar agar tubuhnya terlihat kembung-mengembung tak terhingga. Tapi dia masih terlalu tampan, sehingga kuciptakan topeng berbelalai dan bergading baginya. Si Kepala Gajah, begitu kita memanggilnya sejak itu.

Kelak, ketika kami bersimpang jalan dan memilih sekutu dan lawan masing-masing, sesungguhnya kami sekadar menjadi dua jantung yang selalu bertukar darah. Kami mesti tahu kapan kami harus menyelinap ke dalam lakon dan mesti menghancurkan panggung, tapi, sungguh, perkenankan kami berada di pinggir-pinggir belaka. Ganapati melaburi wajahku dengan warna malam, konon agar aku mirip bunda. Aku berkata, “Buatlah aku sebagai musuhmu yang setia. Buat sebanyak mungkin wajah bagiku agar engkau tak bosan melawanku.” Dan ia membuat enam topeng untukku, “Enam wajah Pandawa dan Drupadi yang menyaru di Istana Wirata,” ujarnya, “atau enam dewa yang harus kubasmi di Ayudya.” Si Muka Enam, demikian kalian menyebut aku sejak itu. “Tinggal kureka empat topeng lagi,” Ganapati berkata, “dan kau akan dipanggil Muka Sepuluh.”

(bersambung)

Kamis, 2009 Juni 04

Intermezzo: Beting


Terima kasih atas segala pengharapan Abang. Tapi tolonglah tambahkan ke dalam doa Abang supaya kami diberi kesehatan dan rejeki yang baik. Janganlah Abang anggap kami ini lebih banyak ruh daripada daging. Janganlah pula Abang terlalu berharap bahwa saya akan datang ke depan Abang nanti dengan dua ton naskah baru. Memang banyak saya menulis—dan sebagian sudah saya perlihatkan pada Abang—tapi sebagian besar akan saya simpan dalam laci saya sendiri saja. Mudah-mudahan Abang sabar. Pada waktunya saya akan meminta saran Abang bagaimana menyunting dan menyusun-ulang sebagian tumpukan naskah saya.

Saya akan segera memberi tahu Abang kalau kami sudah dekat pulang (tentu dengan harapan, Abang menjemput kami di pelabuhan udara). Pastilah saya sangat girang bahwa sering Abang menengok Gato, kucing Persia kami yang sudah tua renta itu; tolonglah, periksakan dia ke dokter hewan di Fatmawati itu, siapa tahu kuping kanannya bernanah lagi seperti tiga tahun lalu. Adapun titipan Abang sudah saya cari dan kumpulkan. Maaf, tidak bisa semuanya; akan terlalu berat jinjingan kami nanti. Yang penting-penting pasti kami dapat. American Poetry Review, Poetry, Juxtapoz, dan Art in America—setahun terakhir (saya desak Abang, nanti kita berlangganan saja deh, tidak mahal kok, apalagi kalau teman-teman juga ikut iuran!). Biar hati Abang sedikit panas, baiklah saya beritakan serba-sedikit di sini: di Poetry edisi April 2009—Translation Issue—ada terjemahan baru sajak Günter Eich yang Abang suka, “Inventory,” kerjaan Joshua Mehigan (sedangkan yang Abang selalu baca adalah versi Charlotte Melin); ada juga terjemahan sajak Víctor Terán, yang menulis dalam bahasa Zapotec, Mirza Asadullah Khan Galib (bahasa Urdu), dan Diakwain (bahasa /xam di Afrika Selatan); tiga yang terakhir ini pas dengan minat Abang, yang sedang mencari-cari sastra dunia yang lain, bukan sastra dunia yang ditulis dalam bahasa-bahasa bekas imperia. Adapun novel dan buku puisi cukup banyak, daftarnya akan segera saya sampaikan pada Abang.

Beberapa kali saya sempat menengok bekas apartemen Abang di Eagle Heights—nomor 812. Ya, masih seperti dulu. Bangunan tak berubah. Juga pohon mapel yang kekar dan tua itu. Di bawahnya dulu kita sering bikin makan-makan untuk teman-teman pada musim panas. Sudah berapa tahun berlalu? Jangan bilang kita sudah menua. Abang bersumpah tidak mau kembali ke mari, ke kota yang tumbuh di beting di antara dua danau ini karena, kata Abang, “Mana mungkin aku kembali ke kampung halaman kedua? Kita hanya layak kembali ke kampung halaman pertama.” Tapi saya kembali lagi; bukan untuk bernostalgia, tapi untuk hidup. Kalau saya bersepeda di pinggir Mendota, atau bergegas dengan kaki di jalan setapak ke arah Picnic Point, saya seperti merasa tidak pernah meninggalkan kota ini. Memang saya tidak kembali ke kampung halaman kedua; saya hanya beruntung menancap kembali ke tempat-tempat di mana saya pernah tinggal agak lama, untuk menghayati betapa sebentar masa kita di dunia—dan betapa kita bersyukur untuk masa yang sebentar itu. Tapi percayalah, Abang, saya sudah banyak berubah sekarang. Misalnya saja, Abang akan heran bahwa saya menjadi pelihat burung; sekarang saya tahu burung apa yang lewat di depan mata saya; saya tahu, misalnya, gerombolan burung hitam bersayap merah (Agelaius phoeniceus) merajai padang gelagah di pinggir danau; burung kardinal merah berjambul (Cardinalis cardinalis) adalah makhluk soliter yang suka bersembunyi di gerumbul daun; dan angsa Kanada (Branta canadensis) membesarkan anak-anaknya di telaga-telaga kecil yang tak disentuh manusia. Saya membeli teropong Nikon Travelite V (9x25 CF), supaya makhluk bersayap itu lebih terasa lebih dekat ke mata dan ke jantung hati; dan kini—ini pasti Abang susah percaya—saya lebih suka membeli buku tentang burung daripada buku tentang seni rupa. Akhir minggu ini, kami berencana pergi ke Horicon Marsh, tempat aneka burung singgah dalam migrasi mereka demi cuaca yang lebih sejuk ke Utara.

Musim semi datang terlalu cepat—atau lebih tepat, tidak berjalan baik. Suhu turun-naik tanpa kendali, bergerak di antara 50 F dan 80 F (pertengahan April sudah terasa panas, misalnya, tapi hari kemarin cuaca merosot ke bawah 60 F lagi). Sehingga, pohon kembang kesukaan Abang, tulip tree (ingat, Bang, ini bukan magnolia!) dan crabapple (ini bukan cherry blossom!) tidak berkembang dengan baik; kembang-kembang itu kurus, pucat dan lekas gugur, dan daun-daunnya terlalu lekas lebat; bahkan sekian banyak tulip tree yang ada di Arboretum juga terlihat lesu-bunga; sedangkan tetampuk crabapple di lapangan di depan Memorial Union terlihat jauh lebih kusam kecoklatan. Namun, daffodil, narkisus, lili, tulip tetap kembang-kembang yang keras kepala—artinya, tak terlalu peduli pada suhu—tetapi juga tidak bisa pamer diri sebaik tahun lalu. Lilacs pun tidak terlalu bersemangat menyemburkan warna ungu-merahnya, meski wanginya tetaplah cemerlang (nah, Abang, kalau saya berdiri di depan pohon lilacs, saya ingat Abang yang tetap saja heran kenapa T.S. Eliot menulis “April is the cruelest month, breeding/Lilacs out of the dead land—”; dan Abang lebih heran lagi, kenapa Harold Bloom nyaris mengabaikan penyair ini sama sekali). Sekarang ini, pasti Abang ingat, awal Juni, adalah giliran iris dan peoni; ya, iris, yang kata Abang ibarat gaun yang tidak memerlukan tubuh perempuan, gaun yang cukup dengan dirinya sendiri, yang seperti melungsur jika terlalu lama dipandang; dan peoni, yang buat saya adalah satu-satunya kembang yang lekas bosan dengan tampuknya sendiri, seperti ratu yang lelah oleh kecantikan dan kenikmatannya sendiri (hari ini saya lihat sejumlah tangkai peoni mulai lengkung-runduk ke tanah, diberati oleh tampuknya yang besar-layu).

Dan “kampung halaman kedua” yang tidak akan Abang kunjungi ini, makin banyak lagi punya makanan dunia. Tadi kami pergi makan ke sebuah restoran Thai yang baru buka di East, tepatnya di Fair Oaks Avenue; kami simpulkan, ini restoran terbaik untuk jenisnya di sini, setelah kami tandaskan tom kha, salad cumi-cumi dan ketan mangga. Begitulah kabar kecil dari kami, Abang. Dan, tentulah saya sangat girang bahwa Abang sudah membeli beberapa buku puisi yang banyak terbit enam bulan terakhir ini di tanah air. Tolonglah ceritakan apa hasil pembacaan Abang. Tapi jangan lupa memberi saya saran apakah dua sepeda Schwinn kami layak dibawa serta ke Jakarta. Salam hangat buat keluarga Abang.

Senin, 2009 Juni 01

Intermezzo: Naik Haji, Naik Kelapa


Bahasa kita punya cara yang nyaris ajaib dalam menciptakan frase yang tampaknya saja mudah dipahami. Frase yang saya maksud adalah gabungan dua kata, katakerja dan katabenda, misalnya saja “naik haji.” Dalam kesempatan ini saya akan menggamit sejumlah frase yang mengandung “naik.”

Tentu saja, “mudah dipahami” berarti semua orang bersepakat tentang artinya. “Naik haji,” misalnya, tidak mengandung arti lain. Tidak juga kita peduli apakah frase itu menyalahi kaidah nahu.

Tapi apakah anda tahu apa itu “naik kelapa”? Ini adalah ungkapan yang banyak dipakai di Sumatra atau wilayah-wilayah lain yang terkena pengaruh bahasa Melayu. Dan kalau anda tidak akrab dengan pohon kelapa atau kebun kelapa, anda tak paham apa arti frase itu.

“Naik kelapa” adalah naik ke—atau menaiki—pohon kelapa. Tentu saja, tindakan ini bertujuan. Yaitu, untuk memetik buah kelapa.

Lebih gamblang lagi, “naik kelapa” adalah pemendekan “naik ke pohon kelapa untuk memetik buah kelapa.” Kita lihat, di sini terjadi penghapusan beberapa kata, juga awalan dan akhiran.

Tentang “naik gunung” kita tak bertanya lagi, meski itu seharusnya berbunyi “naik ke gunung” atau “menaiki gunung.” Jelaslah, di sini ada penghapusan awalan “me” dan akhiran “i” atau kata “ke.”

Bagaimana dengan “naik haji”? Mungkin, karena kita sudah sama-sama mengerti—tepatnya, menyepakati—artinya, kita akan mudah menelusuri duduk perkaranya. Ternyata tidak. Frase ini jelas bukan pemendekan “menaiki haji” atau “menaikkan haji.”

Kalau kita pertimbangkan segi keagamaan, maka “naik haji” boleh berasal dari “naik ke rukun Islam yang paling tinggi, menunaikan ibadah haji.” Kata “naik” bisa juga mengandung makna “naiknya kadar iman,” juga “naiknya status sosial” seseorang yang berhaji. Tapi saya curiga, bahwa frase “naik haji” tercipta pada masa yang lalu ketika orang masih harus “naik kapal” untuk melaksanakan ibadah haji.

Atau “naik” bisa juga berhubungan dengan posisi Nusantara terhadap Saudi Arabia. Pergi ke Mekah adalah pergi ke arah utara, tepatnya utara-barat (barat laut). Dan dalam peta, utara itu ada di atas. Jadi, “naik haji” adalah “naik ke Mekah, untuk berhaji.” Atau, dengan konotasi religius, maka pergi ke Mekah itu adalah berangkat—meningkat secara ruhaniah—dari arah bawah (Nusantara, yang bukan tanah suci, yang sekadar punya Serambi Mekah) ke atas, ke Kota Suci.

Kalau orang bilang “penyanyi itu sedang naik daun,” maka kita sudah paham maksudnya. Tapi saya bertanya, dari mana itu frase “naik daun”? Si penyanyi sudah pasti penyanyi baru, atau penyanyi muda. (Tidak ada penyanyi tua yang dikatakan “naik daun.”) Mungkin ia mirip kuncup daun, atau daun muda: daun yang sedang mekar. Tapi, ke arah mana si daun tumbuh—ke samping atau ke atas?

Ya, tentu saja kita bisa membayang-bayangkan bahwa daun tumbuh ke arah atas—tapi bukan selembar daun, melainkan himpunan daun dalam sebatang pohon. Jadi “naik daun” boleh jadi adalah representasi dari si pohon, pohon muda, yang tumbuh terus ke arah atas, seperti naik ke langit, guna mencapai kedewasaan. Seperti juga si penyanyi.

Atau, kalau kita berani berspekulasi, “naik daun” itu bisa juga setara dengan “naik gunung.” Maka, “naik daun” adalah “menaiki daun.” Lantas kita mafhum, bahwa yang suka naik ke daun-daun itu adalah ulat. Akhirnya kita tercenung, apakah si penyanyi itu seperti ulat. Imut-imut, tapi juga bikin gatal. Bikin gatal tapi perlu.

Tapi ada mungkin di antara anda yang berkata bahwa “naik daun” itu memang ungkapan dari daerah tertentu yang sudah diterima oleh penutur bahasa Indonesia. Ungkapan yang menunjuk kiprah si Polan naik menuju ketenaran dan kejayaan. (Adapun mereka yang menggunakan “naik kelapa," punya juga “naik rumah baru”—housewarming, kata penutur Inggris.)

Sementara itu, meski ada “turun gunung,” kita tahu tak ada “turun daun” dan “turun kelapa.” Tapi, paling tidak, kita tahu betapa tak sederhananya asal-usul frase-dua-kata dalam bahasa kita. Mungkin kita, selaku pengguna bahasa, harus segera “turun mesin.” Kalau tidak, kita tak bisa “naik kelas,” apalagi “naik pangkat.”